30 Juni, 2012

Selamat Ulang tahun Yunita Yang ke 22



Hari ini tepat menunjukan jam 00.00. Berarti sekarang tanggal 30 Juni 2012, selamat ulang tahun diriku, selamat ulang tahun yunita, semoga tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin baik dari segi ahlak, ibadah, emosi, pendidikan, semangat, sosialisasi, kemandirian dan semuanya.

Banyak sekali cerita yang telah terukir di umur 21 tahun, yang sama sekali tak dapat di lupakan dan harus dijadikan instropeksi, pengalaman, dan pembelajaran ke depannya.

Aku ingin sekali tertawa. Tepatnya menertawakan diriku, diriku yang ada di umur 21 tahun, diri yang sangat labil… ihhhh semoga tidak terulang, benar-benar memalukan.

Alhamdulillah target-target di umur 21 tahun hampir semuanya tercapai, semua berkat bantuan dan Skenario Allah yang indah. Alhamdulillah di umur 21 tahun target skripsi dan siding sudah terjalani dengan baik, benar-benar hadiah yang sangat membahagiakan setelah bertahun-tahun berjuang akhirnya Yunita S.psi dapat terwujud nyata, benar-benar proses yang tidak mudah namun memang tak boleh di persulit.

Alhamdulillah dapat bergabung di komunitas mendongeng, komunitas Forum Lingkar Pena, dan dapat bergabung di Biro Konsultan Psikologi Anak dengan lebih matang karena dapat langsung bertemu, dekat, bertatap muka langsung dengan Psikolog Anak, benar-benar seperti mimpi, semoga semua itu dapat menjadi pemicu untuk bersemangat melanjuti sekolah S2 Profesi Psikologi. Aamiin.

Alhamdulillah dapat bergabung dengan Ruhama Treatment Center di SDIT Ruhama, dapat bertemu dengan teman-teman kecil yang mempunyai keistimewaan masing-masing, yang dahulu hanya terdapat dalam teori – teori kampus saja, sekarang sudah menjadi nyata. Ahhh saya benar-benar tak percaya, dapat berhadapan langsung dengan anak-anak itu. Semoga saya sabar mengajarinya dan saya yakin jika saya sabar, iklas, dan ulet mengajari mereka, Insya Allah kelak mereka yang akan mengantarkan saya menuju Syurga. Aamiin

Memang banyak sekali PR di umur 21 yang belum terselesaikan, terutama masalah emosi dan kelabilan, semoga seiring berjalannya waktu semua itu dapat terseimbangkan dengan baik.

Sekarang di umur 22 tahun awal ini saya mempunyai impian untuk dapat menyempurnakan separuh agama saya, mempunyai keluarga kecil yang SAMARA, dengan laki-laki pilihan Allah yang terbaik untuk saya dan keluarga, semoga impian itu dapat terjalani dengan baik. Saya sudah rindu sekali dengan Najma Jasmine dan Najla Jasmine, calon mujahid-mujahid kecil yang Allah kirim untuk melengkapi kehidupan saya, yang namanya sudah saya persiapkan. (Mimpi)

Tuhan, Jodohmu, Rizkimu, semuanya Engkau yang mengatur, hamba sebagai seorang yang rendah tak berdaya, yang tak mempunyai kekuatan apapun untuk mengaturnya, hamba hanya dapat memohon yang terbaik menurut-Mu, semoga Engkau berkenan mengabulkannya.

Allah terimakasih banyak atas segala anugerah terindah yang Engkau berikan. Terimakasih ya Allah.




Yunita Jasmine
30 Juni 2012

27 Juni, 2012

Hanya Galau

membingungkan memang jika memikirkan masa lalu
terlalu sakit bahkan perih
aku yang sejatinya tidak suka, bahkan kesal
memaafkan, melupakan, dan mengiklaskan
obat termurah yang pernah ada

aku yang sejatinya pilu
saat semua orang serasa pergi
atau mungkin aku yang hanya ingin sendiri
aku tidak butuh kamu, dia, atau mereka
aku hanya butuh waktu untuk diam

saat terindah ketika bersenda gurau
tanpa masa lalu, tanpa masa depan
hanya aku dan kamu yang ingin bahagia saat ini
mungkin esok atau lusa kita sudah asing

aku yang sejatinya sedih
aku yang sejatinya marah
aku yang sejatinya bosan
aku yang sejatinya bingung
aku yang sejatinya hanya bisa diam memantau
itu saja yang ku bisa saat ini
semoga takdir berbaik hati
memberiku keindahan sejati, tanpa masa lalu yang menyanyat hati

 

Yunita Jasmine

 

 

26 Juni, 2012

Menjelang hari Lahir yang ke 22


Bismillahirrohmanirrohim….

4 hari lagi usiaku genap 22 tahun, bukan usia yang muda lagi untuk harus berleha-leha menjalani kehidupan. Sudah harus mulai merintis masa depan yang baik dan mandiri. Aku yang sedari tadi diam seribu bahasa, bukan untuk berfikir ataupun berhayal tapi benar-benar diam. Diam untuk melupakan semua kepenatan barang 5 menit saja.

Aku yang masih banyak sekali mimpi yang ingin dicapai namun belum tahu bagaimana cara merealisasikannya, aku ingin S2 untuk agar aku bisa meraih cita-cita dahuluku, menjadi Psikolog Anak, aku yang ingin menikah di usia muda agar aku bisa mempunyai anak-anak cerdas yang sholeh yang aku rawat dengan keringatku, aku yang ingin mempunyai biro konsultan psikologi, aku yang ingin haval Al-Qur’an, aku yang ingin menjadi penulis, aku yang ingin menjadi orang kaya yang dermawan. Ahhh semua itu membuat aku terpacu untuk terus berikhtiar, tapi disisi lain aku takut terjatuhhhh pada mimpi yang ketinggian. Tuhan tolong permudahkanlah

Aku yang hanya wanita sederhana, tidak cantik, juga tidak pintar, tidak kaya, juga tidak gaul, aku hanya wanita cengeng yang berusaha mengukir mimpinya dengan modal senyum ramah dan semangat, aku yang faqir ilmu yang ingin merubah kehidupannya untuk lebih baik. Tuhan tolong dipermudah.

Tuhan…. Ampuni aku atas semua khilaf yang pernah aku perbuat, aku yang lalai, aku yang terkadang malas, aku yang banyak dosa ini mohon dibukakan pintu maaf,

Tuhan, Terimakasih banyak

Yunita Jasmine

24 Juni, 2012

TKW Asal Cianjur Disiksa dan Dilecehkan


Cianjur, Juni 2011

Aku baru lulus SMA dengan peringkat terbaik di sekolah, banyak mimpi yang ingin aku capai setelah ini. Menjadi seorang Dokter adalah salah satu mimpi besarku dan aku akan menggapainya. Namaku Nurjanah, biasa orang-orang memanggilku dengan sebutan Nur. Dua hari lagi aku akan ikut paman ke Jakarta, tepatnya untuk meneruskan kuliahku di tempat orang-orang dapat mewujudkan mimpinya. 

Aku memang bukan keluarga kaya, namun entah mengapa pamanku bersedia menyekolahkanku ke Jakarta, pastinya aku menyambut dengan bahagia dan bersyukur, kesempatan yang langka ini akan aku pergunakan dengan sebaik-baiknya, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja juga untuk sedikit meringankan beban pamanku, itulah mimpi dan semangatku sebelum meninggalkan kampung tercinta. Cianjur.

Jakarta, Juli 2011

Sekarang aku sudah berada di kota Metropolitan bersama paman, akupun sudah melihat bakal calon sekolahku yang baru, perguruan tinggi yang aku impi-impikan sejak kecil sudah di depan mata, walau terbesit sedikit rasa minder namun cepat-cepat aku tangkis dengan mengepalkan tangan dan bertekad untuk menaklukan kampus ini dengan prestasiku.

Setahun sudah ku jalani dengan baik, IPK ku terbilang Comloude, urusan pelajaranku terbilang lancar namun banyak urusan lain yang menggerogoti otakku, paman yang awalnya lancar mengirimiku uang saku, sudah tiga bulan ini nihil tanpa kabar, menurut informasi orang tua ku usaha yang dijalankan paman bangkrut, namun biaya sekolahku, biaya kosnku, dan biaya hidup sehari-hari tetap berjalan, aku bingung, aku sudah berusaha berkerja usai kuliah dengan memberikan privat untuk anak-anak namun tetap saja kurang, setiap bulannya selalu besar pasak dari pada tiang, gali lobang tutup lobang, maklum kehidupan Jakarta yang memang mahal padahal aku sudah mencoba meringankan biaya hidupku dengan hanya satu kali makan setiap hari namun tetap saja sehari-harinya ada saja biaya yang harus dikeluarkan di kampus.

Orang tua yang tadinya setuju aku meneruskan kuliah di jakarta mendadak menyuruhku pulang. Kata ibu, ayah sakit keras, dan ibu juga harus merawat ayah, sedangkan ketiga adikku masih duduk di bangku sekolah, betapa bingungnya aku saat ini.
***
Sesampainya dikampung halaman, ternyata ibu sudah menyiapkan rencananya. Rencana yang membuatku kaget bukan main. Seluruh perlengkapan termasuk paspor atas namaku sudah ibu persiapakan, aku akan dikirim ke Arab Saudi untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), benar-benar mimpi buruk yang tak pernah terbanyangkan, lalu bagaimana dengan kuliahku dan dengan mimpi-mimpi besarku untuk menjadi Dokter. Aku menangis dua hari tanpa keluar dari kamar, ternyata ibu melakukan itu karena tergiur dengan gaji yang diceritakan para tetangga yang sudah merantau kesana, sebegitunya kah dasyatnya uang hingga dapat merubah ibu yang tadinya bijaksana menjadi otoriter.

Aku berangkat dengan berat hati dan terpaksa ke Arab Saudi di jemput orang yang tak aku kenal, dengan menyembunyikan hati yang meringis khusus di depan ibu, aku mencoba tenang dan berdamai dengan nasib namun tetap saja air mata jatuh tak tertahan.

Arab Saudi, Februari 2012

Sebulan di Arab Saudi membuat kehidupanku berubah, kegiatan sehari-hariku bukan lagi belajar namun bekerja persis pembantu rumah tangga, memang saat ini aku adalah pembantu rumah tangga, sedih memang jika memikirkan mimpi ku namun sangat egois jika hanya memikirkan diriku sendiri ditengan perut adik-adikku yang kelaparan, aku iklas itu kunciku. 

Tiga bulan disini terasa lama sekali, namun tak apa yang penting disana ayah, ibu dan adik-adikku bahagia dengan uang kiriman gajiku yang lumayan.

Majikanku disini baik sekali, hanya ada sepasang suami istri yang sudah tua renta, menurut ceritanya mereka mempunyai 3 orang anak laki-laki yang sedang berkuliah di Negeri sebrang sehingga jarang sekali pulang, biasanya pulang setiap luburan saja, aku jadi teringat kuliahku di Jakarta, aku meneteskan air mata dan cepat-cepat aku hapus.

Aku mengirim surat kepada ibu dan keluargaku,

Assalamu’alaukum…

Ibu, bagaimana kabar ayah? Semoga ayah lekas membaik. Ibu maaf, ananda baru sempat mengirim surat. Ananda hanya ingin mengabarkan pada ibu kalau ananda disini baik-baik saja, majikan ananda disini sangat baik. Semoga adik-adik bisa terus bersekolah ya bu, salam rindu untuk ibu, ayah dan adik-adik dari ananda di Arab Saudi.

Semoga surat ini dapat mewakili rasa rindu aku yang selalu masuk dalam mimpiku tiap malam.

Tok…tok..tok

Aku cepat-cepat menuju ke arah pintu, tumben sekali ada tamu, dari pertama aku tinggal disini belum pernah ada sekalipun tamu yang datang, hanya tukang koran itupun hanya sampai halaman.

Muda, tinggi besar, putih, mancung, sosok yang belum pernah aku kenal sebelumnya, namun Umi, sebutan majikanku yang tua renta itu langsung memeluknya dan menyuruhku untuk mengangkat barang-barangnya ke kamar atas. Dari wajahnya memang terlihat sedikit mirip, mungkin itu salah satu anaknya yang pernah diceritakan.

Umi segera masak beraneka ragam makanan kesukaan putranya, aku ditugasi untuk membantunya memotong-motong, betapa cintanya Umi pada anaknya itu, aku jadi rindu ibuku, kalau habis naik-naikan kelas dan aku mendapat juara kelas, ibu langsung memasakan aku opor ayam dengan sambal pete kesukaanku, perutku mendadak keroncongan, aku menelan ludah dan kembali melanjutkan memotong-motong sayuran.

Makan malam telah usai, aku seperti menjadi bagian dari mereka, bukan hanya sekedar pembantu, mungkin karna Umi dan Abi tidak mempunyai anak perempuan atau mungkin karena mereka sudah nyaman denganku yang pasti aku bahagia bisa bertemu dengan majikan seperti mereka, walau sesekali aku suka sedih jika mengingat kuliahku.

Malam ini terasa berbeda karena datangnya anggota baru, bukan anggota baru tapi aku yang baru melihat. Semoga sifat anak laki-lakinya itu sama dengan sifat Umi dan Abi nya yang baik.

Tiga malam sudah berlalu, sedikit aneh buatku ketika pernah di suatu sore Rajab, nama anak Umi yang baru datang itu minta dipijiti di dalam kamar yang pintunya harus ditutup, awalnya aku menolak, aku katakan biar aku panggilkan tukang pijit namun Rajab menolak, dia bilang terlalu lama jika harus memanggil tukang pijit. Aku berpositif thingking, mungkin dia sangat lelah dengan perjalanan yang lumayan jauh, aku memijitinya dengan syarat pintu kamar dibuka lebar, ia setuju.

Berulang kali Rajab minta dipijiti, aku sudah sering kali menolak namun Rajab selalu memaksa, dia mengancamku akan memecatku jika aku tidak memijitinya. Aku tidak mau memijiti Rajab karena terkadang Rajab membelai pipiku ketika aku sedang memijiti tangannya, aku sering kali menangkis tangannya jika dia berusaha memberlai pipiku atau mulai meraba tubuhku namun dia malah memegangku erat. Aku ketakutan.

Malam ini ketika Umi dan Abi sudah tertidur lelap, Rajab datang kekamarku minta dipijiti, aku menolak. Rajab menyelinap masuk kekamarku, aku berteriak namun tangannya membekap mulutku. Pintu kamarku dikunci olehnya dan kuncinya dia sembunyikan di saku celananya, aku sungguh ketakutan, apa yang ingin dia lakukan terhadapku, aku berusaha mengetuk pintu dan berteriak meminta pertolongan namun tidak ada yang mendengar, kamarku memang berada jauh dibelakang, bersebelahan dengan garasi hingga suara apapun tak mungkin terdengar. Rajab menamparku karena aku tak mau menuruti kemauannuya untuk tidur, aku terus menyelamatkan diriku dengan melempar benda-benda yang ada disana, aku lemas, tenagaku hampir habis namun sekuat tenanga aku tetap mempertahankan diriku. Rajab merobek bajuku dan menamparku hingga aku pingsan. Malam itu menjadi malam terburuk yang pernah aku alami, aku tersadar sudah tidak mengenakan busana, namun Rajab sudah tidak ada di sebelahku. Aku kesakitan, rasanya seluruh badan dan hatiku sakit.

Aku tidak keluar kamar, tidak menyapu halaman dan tidak memasak, Umi mengira aku sakit, aku memang sakit namun Umi tidak tahu, sakit apa yang aku rasakan. Umi dengan baik hati menyuruhku untuk istirahat saja, karena aku tidak mau dibawa ke Dokter.

Tiga hari aku selalu berada dikamar tanpa keluar, aku selalu menangis. Dan hal yang aku takutkan datang kembali, Rajab datang lagi kekamarku dan mengunci pintuku dan lagi-lagi dia melakukan itu. Dia merenggut kehormatanku kesekian kalinya., rasanya aku sudah tidak ingin hidup lagi.

Tugas meruba cerita non fiksi menjadi fiksi FLP, Sebelum Revisi

15 Juni, 2012

Surat Kecil untuk Jodohku 3

Assalamu'alaikum jodohku...


Jodohku, 15 hari lagi aku akan berulang tahun yang ke 22, ulang tahunnya sii tidak penting namun aku khawatir di usiaku yang akan bertambah menjadi 22 tahun ini belum bisa dewasa, ahh aku bingung arti dewasa menurut orang-orang itu seperti apa, rasanya aku sudah berusaha untuk terus bersikap dewasa dengan menggunakan skala prioritas sesuai kebutuhan namun tetap saja masih banyak yang mengganggap aku belum dewasa, biarkanlah...

Jodohku, aku ingin teriak yang kencang jika dalam suatu malam terkadang aku merasa kesepian, aku ingin mempunyai teman syering, teman bercerita, teman berjuang, teman bertanya yang dapat mencontohkan kebaikan, ahh sudahlah tidak usah dilanjutkan, Lupakan saja.

Jodohku, Alhamdulillah wa Syukurilah Allah memberikan begitu banyak kemudahan dan keindahan, dalam segala hal, kasih tau ga yaaa apa, ada deh, nanti juga kau tau, makanya cepat dunk kau mencariku, jodohku, banyak cerita yang ingin aku sampaikan padamu.

Jodohku, aku rindu padamu.... titik.

Jodohku, terus doakan aku ya, doa kekuatan menghadapi semua kejadian dalam kehidupan,

Jodohku, Jodohku, Jodohku, semoga kita selalu diberikan ke istiqomahan, keindahan, kebahagiaan, ketenangan dan kesabaran dalam menjalani kehidupan. Aamiin.

Jodohku, doaku semoga aku dapat bertemu denganmu di waktu yang tepat. Aamiin.

Terus berbuat kebaikan ya jodohku walau kecil, walau sulit,

Jodohku, aku masih ingin menumpahkan rindu ku, tapi rasanya tidak baik, jodohku sampai ketemu dalam doa yaaa..

Love you...

14 Juni, 2012

Untuk Kamu

Untuk kamu yang selalu aku perhatikan dari kejauhan...

iyaa kamu, kamu yang selalu menggoda hatiku kala kamu sedang memakai koko, dan peci mu, yang ketika kau berjalan didepanku, kau tidak menyapa ku, hanya sedikit tersenyum dan pergi, itulah saat-saat hatiku berbunga-bunga,

Untuk kamu yang Lembut...

iyaa, kamu. kamu yang selalu ramah dan santun kala berbicara, sedikit pelan namun tegas. Itulah yang selalu membuat aku deg-degan kala dekat denganmu, andai saja kau tauu...

Untuk kamu yang Cerdas...

Lagi... lagi aku selalu tidak kuat ingin memelukmu dengan kencang, kala kamu sedang serius didepan laptopmu atau kala kamu sedang menjawab argumenmu, ahhh kau ini... semakin saja aku menyukaimu.

Untuk kamu yang Penyayang...

kamu yang perduli dengan anak-anak, kamu yang tersenyum ramah dengan mereka, sayang nya kamu pada mereka bikin aku tambah tambah tambah... #uhuk

Untuk kamu yang aku cintai dengan sederhana...

Sederhananya aku mencintai kamu
Sederhananya aku mengagumi kamu, mungkin akan membuat kamu tidak pernah tau betapa aku.... padamu,

biarkanlah...

hanya aku, dan Tuhanku yang Maha Tahu

06 Juni, 2012

Menjelang H-24 usia 22 tahun

Hari ini tepat H-24 usiaku akan meranjak 22 tahun, tuhan rasanya aku ingin mengadukan kesedihanku, kesedihan yang biasanya hanya aku simpan dalam hati tanpa aku tuangkan dalam tulisan. Tuhan, aku sangat kesepian sekali, kesepian yang menyedihkan saat orang-orang terdekatku berubah tanpa sebab, berubah tanpa aku tau penyebabnya, berubah menjadi orang yang sangat tidak aku kenal, aku tidak suka itu.

Tuhan boleh aku meminta sesuatu di usiaku yang meranjak 22 tahun ini....

Tuhan, sungguh aku ingin sekali hadiah ini, hadiah yang sudah aku doakan sejak lama, hadiah yang menjadikan diriku seperti ini sampai saat ini, Tuhan, tolong berikan aku kekasih sholeh yang baik hati, aku membutuhkannya untuk menemani perjuanganku disetiap harinya, kekasih halal yang bisa menjadi sahabatku dalam hal apa saja. Tuhan, saat ini aku sering sekali merasakan kesepian, kesepian yang selalu membuat aku meneteskan air mata tanpa sebab. Kesepian yang terkadang selalu membuatku menjadi wanita yang tidak aktif dalam bersikap.

Tuhan, aku sedang dilanda galau yang teramat sangat, apakah aku harus menangguhkan prinsipku untuk memulai menjalin hubungan dengan bukan muhrimku demi mengusir rasa kesepianku atau aku harus seperti ini saja, menahan kesepian, menahan kesedihan yang aku tidak tahu datangnya dari mana. Oohhh Tuhan tolong berikan yang terbaik, aku terserah Engkau sajalah.

Tuhan, terus kuatkan hati ini, untuk menjemput pangeranku yang sholeh, aku yakin dia ada disana yang juga sedang berjuang melawan kenikmatan-kenikmatan dunia yang fana.

Tuhan, terimakasih yang teramat sangat ketika Engkau mengirimkan sosok-sosok baru dalam menyibukan hari-hariku, aku tahu mungkin itu caraMu untuk mengalihkan kesepianku namun Tuhan terkadang aku tetap saja tidak kuat melihat mereka yang terlihat berbahagia dengan pasangannya, aku ingin juga Tuhan.

Tuhan, maaf jika dalam aku bersikap masih banyak sekali hal-hal yang membuatMu tidak suka padaku, itu semua kehilafanku sebagai manusia biasa.

Tuhan tolong jaga aku, selalu dan selamanya.

30 Mei, 2012

Menjelang H-30 usia 22 tahun

Hari ini tepat H-30 usiaku akan meranja 22 tahun, usia yang hampir setengah matang untuk menuju dewasa. Ohhh, dewasa... mahluk apakah itu?

Banyak sekali hal-hal yang harus dibenahi untuk menuju usia 22 tahun ini, dari mulai ahlak, pemikiran, perbuatan, sampai perasaan. Sepertinya banyak juga prinsip-prinsip baru yang harus di buat dan prinsip-prinsip lama yang harus di tangguhkan, ahh apa cobaa!!!

Usia 22 tahun.... sebentar lagi usiaku 22 tahun, harus sedih, senang atau apa yaa??
yang pasti aku sangat bersyukur karna banyak sekali Anugrah Allah Yang Indah yang aku dapati hingga hari ini. Alhamdulillah tugas-tugas perkembangan dewasa awal terjalani dengan baik.

Tuhanku yang Maha Baik, aku hanya ingin bersyukur atas segala Kebahagiaan yang kau berikan.

Kebahagiaan atas karunia malaikan dunia terbaik, ayah dan bunda yang sangat aku cintai
Kebahagiaan atas dua mutiara terindah yang selalu menemani hari-hariku, Desty dan Intan tersayang
Kebahagiaan atas adik-adik kecil yang menyenangkan
Kebahagiaan atas sahabat-sahabat terkasih yang selalu ada
Kebahagiaan atas semua orang yang kau kirim untukku

Terimakasih Robb, Atas semua Nikmat yang tiada tara ini,,

Aku sadar... ketika kau ciptakan sedih untukku, ketika kau ciptakan bahagia untukku itu semua sebab untuk membuatku semakin dewasa dalam berfikir dan bertindak.

Robb, di usiaku yang ke 22 tahun, aku mohon terus berikan aku hidayah-Mu, terus berikan keIstiqomahan untukku, terus jagain sholat-sholat wajib dan sunnahku, terus terangi hatiku dengan cahayamu,

Robb, hanya ucapan Syukur Alhamdulillah, dan Terimakasih yang tak terhingga yang bisa aku ucapkan atas semua Anugrah ini.

Semoga Engkau terus menjagaku, selalu dan selamanya.

25 Mei, 2012

Revisi Dongeng Bawang Merah da bawang Putih


“ Brakkk…” suara Bawang Putih membanting pintu.
“ Jangan pernah kau datang lagi kerumah ini ” teriak Bawang Putih ketika sedang mengusir laki-laki yang datang kerumahnya.

Entah mengapa Bawang Putih selalu memarahi laki-laki yang datang kerumahnya untuk melamar atau hanya sekedar untuk berkunjung melihat kecantikan bawang putih. Banyak laki-laki yang patah hati dan galau karena kaget terhadap perlakuan Bawang Putih yang ternyata sombong. Banyak pula laki-laki yang pantang menyerah dan tetap mencoba datang ke rumah Bawang Putih walau sudah ratusan kali diusir atau tidak dibukakan pintu oleh Bawang Putih. Dipojok kamarnya, Bawang Putih selalu menangis atas perlakuan sombongnya yang dia khususkan pada laki-laki ganjen, menurutnya kesehatan dan kenyamanan ibunya lebih penting ketimbang memikirkan lamaran-lamaran laki-laki itu.
***
            “ Bawang Merah… Bawang Merah ” teriak sang ibu dari dapur. “ Apa si bu, manggil-manggil ” sahut Bawang Merah dengan suara jutek. “ Ayo nak, kau cuci pakaianmu ke sungai mumpung masih pagi ”, “ Ahh, ibu saja, Bawang Merah malas ”.

Bawang Merah memendam kekesalan sejak kecil terhadap ibunya karena telah mengusir ayah yang paling dicintainya hingga akhirnya Bawang Merah tumbuh dalam kekurangan kasih sayang ayah. Setiap hari Bawang Merah menolak untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang diperintahkan ibunya, dia lebih memilih untuk bermain dan berkumpul dengan teman laki-lakinya di pasar walaupun hanya sekedar duduk-duduk minum kopi. Suatu pagi, ketika Bawang Merah sedang duduk-duduk di pasar tiba-tiba ibunya datang dan menyuruhnya pulang, Bawang Merah menolak dan membentak-bentak sang ibu dengan kata-kata kasar,  spontan ibunya langsung menjewer telinga Bawang Merah hingga rumah. Di rumah, Bawang Merah dan Ibunya bertengkar hebat, keduanya beradu mulut dan beradu otot hingga keduanya sakit hati dan sakit fisik.

Ke esokan harinya, di sebuah pasar yang ramai dengan penjual dan pembeli terdapat Bawang Merah yang sedang bersenda gurau dengan teman-teman laki-lakinya di atas bale bamboo yang berada di pojokan pasar. Tiba-tiba ada laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua datang menghampiri Bawang mereka.

“ Permisi, maaf, kalian sedang apa disini, ini tempat saya berjualan, lebih baik kalian bekerja dari pada harus menghabiskan waktu tak karuan disini, kamu juga, kamu kan perempuan, sedang apa pagi-pagi sudah ada disini, anak perempuan harusnya ada dirumah untuk memasak, atau disungai untuk mencuci pakaian ”, tanya laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua kepada Bawang Merah. Sentak Bawang Merah kaget mendengar suara laki-laki itu, namun bukannya marah atau kesal, Bawang Merah malah tersipu malu dan mengeluarkan senyum kecil nan manis seraya berkata pada laki-laki tampan yang sedikit tua itu.

“ Saya tadi sedang membeli sayuran pa, untuk dimasak di rumah, kebetulan tadi saya melihat ada teman-teman saya jadi saya menghampiri mereka sebentar ”. Dengan nada yang ragu-ragu dalam menjawab, Bawang Merah memang terlihat berbohong, namun sang laki-laki tampan nan sedikit tua itu menyembunyikan dan menunjukan kepercayaan terhadap ucapan Bawang Merah.

 Bawang Merah pun permisi pulang untuk ingin segera memasak walaupun sebenarnya itu bohongan. Di perjalanan Bawang Merah senyum-senyum dan berlari-lari kecil melukiskan kesenangan yang mungkin datangnya dari laki-laki tampan tadi. Setibanya di rumah Bawang Merah langsung meminta pakaian kotor ibunya untuk dia cucikan di sungai, ibunya sekejap kaget dan bingung namun tak dihiraukannya.
*** 
Uhuk… uhuk… uhuk… mengeluarkan darah segar,
itulah yang terjadi setiap hari di kamar, dari kejauhan Bawang Putih meneteskan air mata tiap kali melihat ibunya batuk-batuk namun cepat-cepat dia hapus agar tidak terlihat sang ibu. Bawang Putih segera mengambilkan air putih hangat untuk diberikan pada ibunya. Dan sedikit berbincang-bincang agar ibunya tidak merasa kesepian. 

Ayah yang tadi pagi sebelum berangkat ke pasar untuk berjualan terlihat mencium kening sang istri sangat lama, berbisik di telinganya “ istriku, aku menyayangimu, aku mencintaimu, kau sangat cantik, kau sangat hebat, aku bangga padamu ”. 

Itulah aktifitas pagi yang selalu ayah lakukan kepada ibu, hingga ibu selalu terlihat bahagia dan ceria walau batuk darahnya sudah menggerogoti badannya hingga kurus. Semua pekerjaan rumah dilakukan Bawang Putih dengan gembira, dari memasak, mencuci baju, membersihkan rumah hingga merawat kedua orang tuanya, tak lupa iya juga menyempatkan diri untuk menolong tetangganya apabila membutuhkan bantuannya karena tetangga sebelah rumahnya sudah tua renta dan tak memiliki satupun saudara. Memang Bawang Putuh sangat perduli pada lingkungan sekitar, namun aneh sekali sifatnya itu sangat mendadak berubah ketika menghadapi laki-laki yang menyukainya, entah mengapa.
*** 
“ Bu… ibu… hari ini Bawang Merah yang masak dan belanja ke pasar ya “ teriak bawang merah dengan semangat dan pergi menjauh dari rumah tanpa berpamintan kepada ibu.

Di pasar, Bawang Merah memasang mata tajam seraya mencari sosok yang kemarin ditemuinya, alhasil sosok itupun ada dan cepat-cepat Bawang Merah menghampiri sosok itu sambil tersenyum-senyum kecil. 

“ Asalamu’alaikum pa,” sapa Bawang Merah dengan ramah.
Ternyata laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua itu adalah salah satu penjual sayuran di pasar.
“ Wa’alalikum salam nak, wah senang sekali bisa bertemu lagi, pasti kamu kesini mau membeli sayuran untuk dimasak ya ” sahut laki-laki itu dengan ramahnya,
“ iya pa, hari ini saya mau masak sayur asam dengan sambal ”. Akhirnya Bawang Merah diberi sayuran dan cabai dengan gratis. 

Di rumah, ibu Bawang Merah kebingungan melihat anaknya yang mendadak jadi rajin, namun dalam hati ia bersyukur dengan harapan anaknya akan begini terus sikapnya, tidak seperti dahulu yang durhaka dan pemalas.
*** 
Di pasar yang ramai, terlihat Bawang Putih berlari kencang menyusul ayahnya yang sedang berjualan. Bawang Putih tergopoh-gopong kelelahan karena sangat khawatir dengan keadaan ibunya yang baru saja mengeluarkan darah, bukan saja dari mulut namun dari lubang hidung dan kedua telinganya. 

“ Ayah… Ayah… cepat pulang yah, kondisi ibu menurun drastis, Bawang Putih takut ibu kenapa-napa yah,“ melihat Bawang Putih yang panik ayahnya segera meninggalkan dagangannya dan berlari pulang ke rumah bersama Bawang Putih, ternyata di rumah sudah ada beberapa orang yang berada di dalam kamar sang ibu, ternyata sang ibu sudah meninggal sepuluh menit yang lalu ketika seorang tetangganya yang tua renta melihat Bawang Putih berlari ke pasar dan dia melihat ke kamar ibu, ternyata ibu Bawang Putih sudah tiada. Berhari-hari Bawang Putih menangis dan mengurung diri di kamar, berhari-hari pun ayah tidak berjualan ke pasar, aroma kesedihan sangat terlihat jelas di kelurga tersebut.
*** 
Di teras rumah yang kecil, terlihat Bawang Merah melamun sendirian, entah apa yang dipikirkannya, yang pasti sudah hampir dua minggu Bawang Merah menyengajakan pergi ke pasar untuk bertemu dengan sosok laki-laki yang tak kunjung di temuinya, yang ternyata dari pertemuan pertama itu sudah timbul benih-benih cinta di hati Bawang Merah. Sifat Bawang Merah kembali seperti semula, durhaka terhadap ibunya dan juga pemalas namun karena sifat ibunya yang juga sangat galak menjadikan Bawang Merah dan Ibunya melakukan adu mulut dan adu otot setiap harinya dan tak ada yang mengalah.

Seminggu pun berlalu dengan beberapa kali pertengkaran ibu dan anak yang hampir rutin setiap hari, namun sore ini berbeda, ibu Bawang Merah mendadak jadi senyum-senyum sendiri dan menghiraukan teriakan-teriakan kasar dari Bawang Merah yang terkadang itu yang menjadi pertengkaran, entah dikarenakan apa, yang pasti sejak tadi siang sepulangnya ibu Bawang Merah Bekerja di toko baju, wajah ibu ceria dan merah merona seperti habis bertemu dengan tambatan hati. Benar sekali, ternyata ibu Bawang Merah kepincut dengan pembeli yang tadi datang ke tokonya bukan untuk membeli pakaian, melainkan untuk memberikannya beberapa potong baju yang masih bagus-bagus kepunyaan almarhumah istrinya yang katanya sayang jika tidak digunakan dan hanya disimpan dalam lemari, lebih baik diberikan agar bermanfaat.

Bawang Merah benar-benar curiga dengan sikap ibunya yang akhir-akhir ini menjadi sedikit lebih ramah terhadapnya, namun tetap dihiraukannya karena menurut Bawang Merah itu hanya sementara, yang pasti Bawang Merah tak henti-hetinya setiap pagi pergi ke pasar dengan harapan bisa bertemu dengan sosok laki-laki tampan yang memang sedikit terlihat tua. 

Pagi ini Bawang Merah pergi ke pasar untuk membeli sayur, bukan untuk mengobrol dengan teman laki-lakinya, suatu rutinitas yang baru dia lakukan sejak dia bertemu dengan sosok laki-laki tampan yang sedikit terlihat tua itu. Bawang Merah senang sekali karena akhirnya ia bertemu dengan sosok itu, Bawang Merah pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dia mengobrol banyak dan sesekali melontarkan pujian dan perhatian supaya sosok itu menyadari benih cinta yang ada dalam hati Bawang Merah. Enam bulan pun berlalu dan rutinitas itu selalu Bawang Merah lakukan setiap pagi hingga terlihat keakraban antara Bawang Merah dengan sosok laki-laki itu.
*** 
Di ruang tamu yang megah, Bawang Putih dan ayahnya berbincang-bincang kecil, mulai dari ayahnya yang menanyakan kapan Bawang Putih akan menerima lamaran salah salah satu laki-laki yang sering datang kerumahnya, sampai dengan Bawang Putih yang bertanya kepada ayahnya kapan akan memberikan ibu baru, karena Bawang Putih kasihan melihat ayah yang selalu melamun setiap malam. Mereka terhanyut dalam tawa masing-masing. Terlihat jelas sekali keakraban antara ayah dan anak tersebut.
*** 
Di sudut toko baju yang sepi pembeli, ibu Bawang Merah galau, ia berharap sosok laki-laki yang pernah memberikannya beberapa potong baju itu akan datang kembali karena ibu Bawang Merah ingin sekali mengungkapkan perasaannya, perasaan yang tumbuh sejak pertama bertemu, dan Tuhan pun mendengarnya, secara tiba-tiba datang sosok itu yang berniat untuk membelikan hadiah baju untuk anaknya, sosok itupun meminta tolong kepada ibu Bawang Merah untuk dicarikan baju yang modelnya sesuai dengan usia anaknya, kebetulan sekali anak sosok laki-laki itu seusia dengan Bawang Merah hingga ibu Bawang Merah pun tidak mengalami kesulitan untuk mencarikan baju yang cocok. Setelah dipilihkan ternyata pilihannya cocok dengan selera sosok laki-laki itu, “ wah terimakasih banyak ibu, sudah membantu mencarikan baju untuk hadiah anak saya, sepertinya anak saya akan terlihat lebih cantik mengenakan baju ini ”, keduanya pun saling pandang dan tersenyum. Di dalam hati ibu Bawang Merah ada keinginan untuk mengatakan perasaannya, namun disisi lain dia tidak berani. Sosok laki-laki itupun pergi kian menjauh hingga banyangannya sudah tidak terlihat lagi.
*** 
“ Nak, hari ini mau masak apa? ” tanya pedagang sayuran kepada Bawang Merah yang tidak lain adalah sosok laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua. Bawang Merah pun senang sekali setiap pagi bisa melihat laki-laki itu, selain menjadi rajin ke pasar, Bawah Merah pun menjadi padai memasak. “ Mau masak tumis kangkung pa, ada kangkungnya pa? ” tanya Bawang Merah. “ Ada nak, mau berapa ikat? ” tanya pedagang sayur dengan senyumnya yang ramah. Bawang Merah semakin menggebu-gebu, perasaannya makin tidak karuan, benih-benih cintanya sudah semakin besar, seperti sudah tak bisa di bending lagi, Bawang Merah merasakan kenyamanan setiap berada di dekat laki-laki itu, sepertinya Bawang Merah sudah bulat untuk menjadikan sosok lelaki itu sebagai kekasihnya bahkan suaminya. Wajah Bawang Merah pun memerah tak karuan, dia ingin sekali mengungkapkan perasaannya, walaupun malu.  

Tiba-tiba sosok laki-laki itu memanggilnya, “ nak, boleh saya kenal nama kamu?” makin saja jantung Bawang Merah berdetak kencang.

Singkat cerita, Bawang Merah diajak menikah oleh sosok laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua itu yang tidak lain adalah ayah dari Bawang Putih. Ternyata ayah Bawang Putih juga mempunyai perasaan yang sama, jatuh cinta pada pandangan pertama. Ibu Bawang Merah sangat terkejut, kaget, dan marah ketika melihat seorang laki-laki datang ke rumahnya untuk melamar putrinya, seorang laki-laki yang juga dia cintai, seorang laki-laki yang telah mencuri perasaannya sejak pertama bertemu di toko baju itu, dan sekarang laki-laki itu ada di depan wajahnya untuk meminta izin melamar putrinya yaitu Bawang Merah.

Waktu berjalan sangat cepat, Bawang Merah dan sosok laki-laki itu sudah melangsungkan pernikahan. Mereka hidup bahagia, Bawang Merah yang pandai sekali memasak, menjadi istri yang sangat dicintai suaminya, namun kebahagiaan itu musnah kala Ibu Bawang Merah berniat menghancurkan rumah tangga mereka. Sifat iri dan dengki ibu Bawang Merah terhadap kebahagiaan Bawang Merah menjadikan pintu hatinya selalu diselimuti oleh sifat ingin balas dendam dan merebut semua kebahagiaan yang dimiliki Bawang Merah. Hingga suatu kejadian tragis pun terjadi, Bawang Merah diajak kesebuah rumah kosong oleh ibunya, lalu Bawang Merah disiksa dengan beberapakali dipukuli. Bawang Merah kesakitan, ia menangis minta ampun, namun ibunya tak menghiraukan, ibunya tetap memukuli Bawang Merah hingga pingsan.
***
Di dalam rumah ada Bawang Putih yang sedang menonton TV, sedari tadi ia mencari mama tirinya yaitu Bawang Merah yang sangat ia cintai walaupun umurnya tak jauh berbeda dengannya, namun tak kunjung ada, “ mama… mama…” teriak Bawang Putih. Bawang Putih cemas, ia keluar rumah untuk mencari namun tak juga ketemu.
***
Di dalam rumah kosong, Bawang Merah tersadar tangannya terikat dan badannya memar-memar, ia mencoba melepaskan ikatan tangannya dan melarikan diri. Karena rasa haus dan lapar yang teramat sangat ia pergi mencari air ke sungai. Di sungai Bawang Merah minum, badannya mulai segar kembali dan ia segera pulang ke rumah untuk mengadukan perbuatan ibunya kepada suaminya dan anak tirinya. Akhirnya, mereka bertiga pergi ke kentor polisi dan ibu Bawang Merah ditangkap dengan laporan penganiayaan. Ibu Bawang Merah mendapat hukum pidana dengan pasal 19 ayat 1 yaitu hukuman selama 5 tahun 5 bulan.
***
Bawang Putih hidup dalam keluarga yang bahagia, walaupun dengan mama tiri, namun mereka saling menyayangi. Dua tahun kemudian, Bawang Putih dilamar oleh seorang pangeran tampan yang baik hati, mereka menikah dan dikaruniai seorang putra yang tampan, dan mama tirinya yaitu Bawang Merah telah dikaruniai anak kembar yang cantik dan lucu bernama Bawang Bombai dan Bawang Seledri. Keluarga tersebut hidup rukun dan bahagia.
SELESAI