Adzan kamu
Lantunan sholawat kamu
Khusuknya doa kamu
Indahnya busana kamu
Hingga pandainya kamu tersenyum
Semua terlalu cukup untukku mengagumimu
Aq yang tak pandai berkata
Aq yang selalu hanyut dalam tangis
Aq yang pura-pura diam
Semua sudah cukup untukku menyayangimu
Aku memang tak ingin kau tahu
Aku sengaja membencimu
Aku biasa mengacuhkanmu
Karena ku rasa ini cukup untuk mencintaimu
Kagumku
Sayangku
Cintaku
Hanya untuk mimpiku
Tak lebih, tak bertambah
Dalam kehidupanku yang nyata
be inspired takkan terganti .....
28 Juli, 2012
23 Juli, 2012
Bertemu Kembali
Dahulu......
Engkau guruku saat aku berseragam putih biru
Hadirmu mengubah duniaku
Memicu semangatku
Melembutkan hatiku
Merubah perangaiku
Menyejukkan otakku
Hingga menjadikanku sang juara
Dahulu.....
Aku yang masih bocah,
Mengagumimu adalah kata termudah yang pernah ada
Sungguh aku mengagumimu, lebih dari yang kau tahu
Dahulu....
Aku yang masih di bawah umur
Tak berani sekalipun aku mencintaimu
Rasa yang sering bergejolak saat diajarimu
Kebahagiaan yang sering datang saat melihat parasmu
Semua tersimpan rapih dalam Kalbu
Karena Engkau guruku
Bertahun-tahun aku menuntut ilmu
Selama itupun aku kehilangan sosokmu
Engkau yang kukagumi dahulu
Engkau yang kucintai hanya dalam kalbu
Engkaulah Guruku terkasih
Semua rasa yang tidak wajar harus pergi
Aku faham, akupun mengerti
Aku muridmu, hanya murid kecil
Murid kecil yang bersyukur atas semua kebaikan mu
Saat ini...
Aku yang sudah dewasa
Aku yang genap 22 tahun
Aku yang baru saja menyelesaikan sarjanaku
Aku yang sekarang bergabung dalam sekolah itu,
Sekolah islami yang sentak membuatku bergetar hebat
Aku menemukan sosok lama yang sangat aku kenal
Bayang-bayang masa lalu
Ahhh, aku tak boleh...
Engkau tetap guruku
Guru terbaikku,
Engkau guruku saat aku berseragam putih biru
Hadirmu mengubah duniaku
Memicu semangatku
Melembutkan hatiku
Merubah perangaiku
Menyejukkan otakku
Hingga menjadikanku sang juara
Dahulu.....
Aku yang masih bocah,
Mengagumimu adalah kata termudah yang pernah ada
Sungguh aku mengagumimu, lebih dari yang kau tahu
Dahulu....
Aku yang masih di bawah umur
Tak berani sekalipun aku mencintaimu
Rasa yang sering bergejolak saat diajarimu
Kebahagiaan yang sering datang saat melihat parasmu
Semua tersimpan rapih dalam Kalbu
Karena Engkau guruku
Bertahun-tahun aku menuntut ilmu
Selama itupun aku kehilangan sosokmu
Engkau yang kukagumi dahulu
Engkau yang kucintai hanya dalam kalbu
Engkaulah Guruku terkasih
Semua rasa yang tidak wajar harus pergi
Aku faham, akupun mengerti
Aku muridmu, hanya murid kecil
Murid kecil yang bersyukur atas semua kebaikan mu
Saat ini...
Aku yang sudah dewasa
Aku yang genap 22 tahun
Aku yang baru saja menyelesaikan sarjanaku
Aku yang sekarang bergabung dalam sekolah itu,
Sekolah islami yang sentak membuatku bergetar hebat
Aku menemukan sosok lama yang sangat aku kenal
Bayang-bayang masa lalu
Ahhh, aku tak boleh...
Engkau tetap guruku
Guru terbaikku,
Teruntuk Guruku Terkasih
Labels:
puisi
13 Juli, 2012
Surat Kecil Untuk Jodohku 4
Assalamu'alaikum Jodohku.....
Di awali goresan untuk mewakili betapa aku sangat merindukanmu jodohku, hingga aku berusaha untuk menyelipkan doa untukmu di setiap sholatku, tepatnya doa kebaikan dan kebahagiaan agar kita di pertemukan pada waktu yang tepat dan pada saat kita siap. Aamiin.
Di awali goresan untuk mewakili betapa aku sangat merindukanmu jodohku, hingga aku berusaha untuk menyelipkan doa untukmu di setiap sholatku, tepatnya doa kebaikan dan kebahagiaan agar kita di pertemukan pada waktu yang tepat dan pada saat kita siap. Aamiin.
Jodohku aku
ingin memberikan kabar bahagia untukmu yaitu Insya Allah besok 14 Juli
2012 aku akan di Wisuda dan gelar S.Psi akan di Syahkan oleh pak Rektor,
doakan aku ya jodohku agar semuanya berjalan lancar, dan aku dapat
mempertanggung jawabkan gelar itu dengan bekerja tuntas untuk negara dan
agamaku. Aamiin, ohh iyaa jodohku bukan itu saja, Alhamdulillah wa
Syukurilah akupun sebentar lagi sudah bisa bertemu, belajar dan bermain
dengan teman-teman kecil, Alhamdulillah mulai tahun ajaran baru aku
sudah bisa mengajar di SDIT Ruhama, sekolah yang memang dari aku
semester 5 sudah aku niatkan untuk bisa menjadi salah satu guru disana,
selain dekat dari rumahku, sekolah itu juga sangat menjunjung tinggi
kegiatan islami, semoga dengan lingkungan yang baik aku juga bisa
tertular menjadi baik. Aamiin.
Jodohku, sebenarnya aku
ingin sekali kau bisa melihatku menggunakan Toga, apalagi sampai
memberikan aku bunga,, senangnya, tapi sayang sekali ya, kita belum di
pertemukan, tak apalah, Insya Allah semua akan indah pada waktunya.
Jodohku bagaimana dengan keadaanmu?
pertanyaan yang aku belum tau kapan akan di jawab, dan oleh siapa?
Jodohku, saling mendoakan yang terbaik ya,
Jodohku, tolong doakan aku agar di permudah untuk membahagiaakan kedua orang tuaku yaa,
Jodohku, aku menunggumu... I Love You
Labels:
Surat Cinta
02 Juli, 2012
Yunita Jasmine
| Majalah Al-Kisah Vol: 19 |
Pernah dengar istilah Sahabat Pena atau yang biasa di kenal Sapen, ya betul sekali dahulu sebelum maraknya email atau jejaring sosial saya biasa surat-suratan, berkenalan dengan orang-orang se-Indonesia lewat surat, mungkin sekarang itu sudah jadul sekali tapi saya masih suka dengan hoby lama saya itu, mestipun intensitasnya berkurang.
kita bisa membuat nama Sapen sesuai dengan keinginan kita, dahulu saya menggunakan istilah "sukanitha" dengan harapan orang-orang yang berkenalan atau menjadi sahabat saya bisa dengan mudah suka maksudnya suka dalam arti persahabatan, banyak sekali surat-surat yang datang ke saya, masih saya simpan dengan rapi sampai saat ini.
kalau mengingatnya saya jadi kangen dengan sapen saya yang ada di Gorontalo yang banyak sekali mengajari saya tentang menulis indah, tepatnya menulis dengan romantis, atau dengan sapen saya yang ada di Magetan, lewat dia saya banyak tahu tentang kota itu, atau dengan sapen yang berada di Padang dan Tanggerang, yang banyak berbagi tips, info dan banyak hal.
namun saat ini, tepatnya ketika Aprilia Jasmine di persunting oleh Ustd. Solmed, saya menjadi ingin mengganti nama sapen saya menjadi "Yunita Jasmine", dengan harapan saya bisa seperti Aprilia Jasmine yang mendapat rezeki yang begitu besar, yaitu mendapatkan suami yang sholeh. Beruntung sekali dia, doa apa yang dia panjatkan pada Allah ya, hingga mendapatkan rezeki sebesar itu, yang pasti dapat menolong dan membahagiakannya dunia akhirat, ahh senang sekali, saya iri, dari cerita itulah saya meresmikan nama sapen saya menjadi "Yunita Jasmine", semoga...semoga..semoga... *doa dalam hati*,,
selamat datang Yunita Jasmine, semoga dengan nama pena yang baru ini dapat menjadi lebih dari yang kemarin yang kemarin,
selamat datang umur 22, saya berharap di umur ini dapat lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan saya pada Allah sang Maha Cinta.
30 Juni, 2012
Selamat Ulang tahun Yunita Yang ke 22
Hari
ini tepat menunjukan jam 00.00. Berarti sekarang tanggal 30 Juni 2012, selamat
ulang tahun diriku, selamat ulang tahun yunita, semoga tahun ini harus lebih
baik dari tahun kemarin baik dari segi ahlak, ibadah, emosi, pendidikan,
semangat, sosialisasi, kemandirian dan semuanya.
Banyak
sekali cerita yang telah terukir di umur 21 tahun, yang sama sekali tak dapat
di lupakan dan harus dijadikan instropeksi, pengalaman, dan pembelajaran ke
depannya.
Aku
ingin sekali tertawa. Tepatnya menertawakan diriku, diriku yang ada di umur 21
tahun, diri yang sangat labil… ihhhh semoga tidak terulang, benar-benar
memalukan.
Alhamdulillah
target-target di umur 21 tahun hampir semuanya tercapai, semua berkat bantuan
dan Skenario Allah yang indah. Alhamdulillah di umur 21 tahun target skripsi
dan siding sudah terjalani dengan baik, benar-benar hadiah yang sangat
membahagiakan setelah bertahun-tahun berjuang akhirnya Yunita S.psi dapat
terwujud nyata, benar-benar proses yang tidak mudah namun memang tak boleh di
persulit.
Alhamdulillah
dapat bergabung di komunitas mendongeng, komunitas Forum Lingkar Pena, dan
dapat bergabung di Biro Konsultan Psikologi Anak dengan lebih matang karena
dapat langsung bertemu, dekat, bertatap muka langsung dengan Psikolog Anak,
benar-benar seperti mimpi, semoga semua itu dapat menjadi pemicu untuk
bersemangat melanjuti sekolah S2 Profesi Psikologi. Aamiin.
Alhamdulillah
dapat bergabung dengan Ruhama Treatment Center di SDIT Ruhama, dapat bertemu
dengan teman-teman kecil yang mempunyai keistimewaan masing-masing, yang dahulu
hanya terdapat dalam teori – teori kampus saja, sekarang sudah menjadi nyata. Ahhh
saya benar-benar tak percaya, dapat berhadapan langsung dengan anak-anak itu. Semoga
saya sabar mengajarinya dan saya yakin jika saya sabar, iklas, dan ulet
mengajari mereka, Insya Allah kelak mereka yang akan mengantarkan saya menuju
Syurga. Aamiin
Memang
banyak sekali PR di umur 21 yang belum terselesaikan, terutama masalah emosi
dan kelabilan, semoga seiring berjalannya waktu semua itu dapat terseimbangkan
dengan baik.
Sekarang
di umur 22 tahun awal ini saya mempunyai impian untuk dapat menyempurnakan
separuh agama saya, mempunyai keluarga kecil yang SAMARA, dengan laki-laki pilihan
Allah yang terbaik untuk saya dan keluarga, semoga impian itu dapat terjalani
dengan baik. Saya sudah rindu sekali dengan Najma Jasmine dan Najla Jasmine,
calon mujahid-mujahid kecil yang Allah kirim untuk melengkapi kehidupan saya, yang namanya sudah saya persiapkan. (Mimpi)
Tuhan,
Jodohmu, Rizkimu, semuanya Engkau yang mengatur, hamba sebagai seorang yang
rendah tak berdaya, yang tak mempunyai kekuatan apapun untuk mengaturnya, hamba
hanya dapat memohon yang terbaik menurut-Mu, semoga Engkau berkenan
mengabulkannya.
Allah terimakasih banyak atas segala anugerah terindah yang Engkau berikan. Terimakasih ya Allah.
Yunita
Jasmine
30
Juni 2012
Labels:
Ultah ku
27 Juni, 2012
Hanya Galau
membingungkan memang jika memikirkan masa lalu
terlalu sakit bahkan perih
aku yang sejatinya tidak suka, bahkan kesal
memaafkan, melupakan, dan mengiklaskan
obat termurah yang pernah ada
aku yang sejatinya pilu
saat semua orang serasa pergi
atau mungkin aku yang hanya ingin sendiri
aku tidak butuh kamu, dia, atau mereka
aku hanya butuh waktu untuk diam
saat terindah ketika bersenda gurau
tanpa masa lalu, tanpa masa depan
hanya aku dan kamu yang ingin bahagia saat ini
mungkin esok atau lusa kita sudah asing
aku yang sejatinya sedih
aku yang sejatinya marah
aku yang sejatinya bosan
aku yang sejatinya bingung
aku yang sejatinya hanya bisa diam memantau
itu saja yang ku bisa saat ini
semoga takdir berbaik hati
memberiku keindahan sejati, tanpa masa lalu yang menyanyat hati
Yunita Jasmine
26 Juni, 2012
Menjelang hari Lahir yang ke 22
Bismillahirrohmanirrohim….
4
hari lagi usiaku genap 22 tahun, bukan usia yang muda lagi untuk harus
berleha-leha menjalani kehidupan. Sudah harus mulai merintis masa depan yang
baik dan mandiri. Aku yang sedari tadi diam seribu bahasa, bukan untuk berfikir
ataupun berhayal tapi benar-benar diam. Diam untuk melupakan semua
kepenatan barang 5 menit saja.
Aku
yang masih banyak sekali mimpi yang ingin dicapai namun belum tahu bagaimana
cara merealisasikannya, aku ingin S2 untuk agar aku bisa meraih cita-cita
dahuluku, menjadi Psikolog Anak, aku yang ingin menikah di usia muda agar aku
bisa mempunyai anak-anak cerdas yang sholeh yang aku rawat dengan keringatku,
aku yang ingin mempunyai biro konsultan psikologi, aku yang ingin haval Al-Qur’an,
aku yang ingin menjadi penulis, aku yang ingin menjadi orang kaya yang
dermawan. Ahhh semua itu membuat aku terpacu untuk terus berikhtiar, tapi
disisi lain aku takut terjatuhhhh pada mimpi yang ketinggian. Tuhan tolong
permudahkanlah
Aku
yang hanya wanita sederhana, tidak cantik, juga tidak pintar, tidak kaya, juga
tidak gaul, aku hanya wanita cengeng yang berusaha mengukir mimpinya dengan
modal senyum ramah dan semangat, aku yang faqir ilmu yang ingin merubah
kehidupannya untuk lebih baik. Tuhan tolong dipermudah.
Tuhan….
Ampuni aku atas semua khilaf yang pernah aku perbuat, aku yang lalai, aku yang
terkadang malas, aku yang banyak dosa ini mohon dibukakan pintu maaf,
Tuhan,
Terimakasih banyak
Yunita Jasmine
Labels:
Ultah ku
24 Juni, 2012
TKW Asal Cianjur Disiksa dan Dilecehkan
Cianjur, Juni 2011
Aku
baru lulus SMA dengan peringkat terbaik di sekolah, banyak mimpi yang ingin aku
capai setelah ini. Menjadi seorang Dokter adalah salah satu mimpi besarku dan
aku akan menggapainya. Namaku Nurjanah, biasa orang-orang memanggilku dengan
sebutan Nur. Dua hari lagi aku akan ikut paman ke Jakarta, tepatnya untuk
meneruskan kuliahku di tempat orang-orang dapat mewujudkan mimpinya.
Aku
memang bukan keluarga kaya, namun entah mengapa pamanku bersedia menyekolahkanku
ke Jakarta, pastinya aku menyambut dengan bahagia dan bersyukur, kesempatan
yang langka ini akan aku pergunakan dengan sebaik-baiknya, aku akan belajar
dengan sungguh-sungguh, bekerja juga untuk sedikit meringankan beban pamanku,
itulah mimpi dan semangatku sebelum meninggalkan kampung tercinta. Cianjur.
Jakarta, Juli 2011
Sekarang
aku sudah berada di kota Metropolitan bersama paman, akupun sudah melihat bakal
calon sekolahku yang baru, perguruan tinggi yang aku impi-impikan sejak kecil
sudah di depan mata, walau terbesit sedikit rasa minder namun cepat-cepat aku
tangkis dengan mengepalkan tangan dan bertekad untuk menaklukan kampus ini
dengan prestasiku.
Setahun
sudah ku jalani dengan baik, IPK ku terbilang Comloude, urusan pelajaranku terbilang lancar namun banyak urusan
lain yang menggerogoti otakku, paman yang awalnya lancar mengirimiku uang saku,
sudah tiga bulan ini nihil tanpa kabar, menurut informasi orang tua ku usaha
yang dijalankan paman bangkrut, namun biaya sekolahku, biaya kosnku, dan biaya
hidup sehari-hari tetap berjalan, aku bingung, aku sudah berusaha berkerja usai
kuliah dengan memberikan privat untuk anak-anak namun tetap saja kurang, setiap
bulannya selalu besar pasak dari pada tiang, gali lobang tutup lobang, maklum
kehidupan Jakarta yang memang mahal padahal aku sudah mencoba meringankan biaya
hidupku dengan hanya satu kali makan setiap hari namun tetap saja
sehari-harinya ada saja biaya yang harus dikeluarkan di kampus.
Orang
tua yang tadinya setuju aku meneruskan kuliah di jakarta mendadak menyuruhku
pulang. Kata ibu, ayah sakit keras, dan ibu juga harus merawat ayah, sedangkan
ketiga adikku masih duduk di bangku sekolah, betapa bingungnya aku saat ini.
***
Sesampainya
dikampung halaman, ternyata ibu sudah menyiapkan rencananya. Rencana yang
membuatku kaget bukan main. Seluruh perlengkapan termasuk paspor atas namaku
sudah ibu persiapakan, aku akan dikirim ke Arab Saudi untuk menjadi Tenaga
Kerja Wanita (TKW), benar-benar mimpi buruk yang tak pernah terbanyangkan, lalu
bagaimana dengan kuliahku dan dengan mimpi-mimpi besarku untuk menjadi Dokter.
Aku menangis dua hari tanpa keluar dari kamar, ternyata ibu melakukan itu
karena tergiur dengan gaji yang diceritakan para tetangga yang sudah merantau
kesana, sebegitunya kah dasyatnya uang hingga dapat merubah ibu yang tadinya
bijaksana menjadi otoriter.
Aku
berangkat dengan berat hati dan terpaksa ke Arab Saudi di jemput orang yang tak
aku kenal, dengan menyembunyikan hati yang meringis khusus di depan ibu, aku
mencoba tenang dan berdamai dengan nasib namun tetap saja air mata jatuh tak
tertahan.
Arab Saudi, Februari 2012
Sebulan
di Arab Saudi membuat kehidupanku berubah, kegiatan sehari-hariku bukan lagi
belajar namun bekerja persis pembantu rumah tangga, memang saat ini aku adalah
pembantu rumah tangga, sedih memang jika memikirkan mimpi ku namun sangat egois
jika hanya memikirkan diriku sendiri ditengan perut adik-adikku yang kelaparan,
aku iklas itu kunciku.
Tiga
bulan disini terasa lama sekali, namun tak apa yang penting disana ayah, ibu
dan adik-adikku bahagia dengan uang kiriman gajiku yang lumayan.
Majikanku
disini baik sekali, hanya ada sepasang suami istri yang sudah tua renta,
menurut ceritanya mereka mempunyai 3 orang anak laki-laki yang sedang berkuliah
di Negeri sebrang sehingga jarang sekali pulang, biasanya pulang setiap luburan
saja, aku jadi teringat kuliahku di Jakarta, aku meneteskan air mata dan
cepat-cepat aku hapus.
Aku
mengirim surat kepada ibu dan keluargaku,
Assalamu’alaukum…
Ibu, bagaimana kabar ayah? Semoga
ayah lekas membaik. Ibu maaf, ananda baru sempat mengirim surat. Ananda hanya
ingin mengabarkan pada ibu kalau ananda disini baik-baik saja, majikan ananda
disini sangat baik. Semoga adik-adik bisa terus bersekolah ya bu, salam rindu
untuk ibu, ayah dan adik-adik dari ananda di Arab Saudi.
Semoga
surat ini dapat mewakili rasa rindu aku yang selalu masuk dalam mimpiku tiap
malam.
Tok…tok..tok
Aku
cepat-cepat menuju ke arah pintu, tumben sekali ada tamu, dari pertama aku
tinggal disini belum pernah ada sekalipun tamu yang datang, hanya tukang koran
itupun hanya sampai halaman.
Muda, tinggi besar, putih, mancung,
sosok yang belum pernah aku kenal sebelumnya, namun Umi, sebutan majikanku yang
tua renta itu langsung memeluknya dan menyuruhku untuk mengangkat barang-barangnya
ke kamar atas. Dari wajahnya memang terlihat sedikit mirip, mungkin itu salah
satu anaknya yang pernah diceritakan.
Umi
segera masak beraneka ragam makanan kesukaan putranya, aku ditugasi untuk
membantunya memotong-motong, betapa cintanya Umi pada anaknya itu, aku jadi
rindu ibuku, kalau habis naik-naikan kelas dan aku mendapat juara kelas, ibu
langsung memasakan aku opor ayam dengan sambal pete kesukaanku, perutku
mendadak keroncongan, aku menelan ludah dan kembali melanjutkan memotong-motong
sayuran.
Makan
malam telah usai, aku seperti menjadi bagian dari mereka, bukan hanya sekedar
pembantu, mungkin karna Umi dan Abi tidak mempunyai anak perempuan atau mungkin
karena mereka sudah nyaman denganku yang pasti aku bahagia bisa bertemu dengan majikan
seperti mereka, walau sesekali aku suka sedih jika mengingat kuliahku.
Malam
ini terasa berbeda karena datangnya anggota baru, bukan anggota baru tapi aku
yang baru melihat. Semoga sifat anak laki-lakinya itu sama dengan sifat Umi dan
Abi nya yang baik.
Tiga
malam sudah berlalu, sedikit aneh buatku ketika pernah di suatu sore Rajab,
nama anak Umi yang baru datang itu minta dipijiti di dalam kamar yang pintunya
harus ditutup, awalnya aku menolak, aku katakan biar aku panggilkan tukang
pijit namun Rajab menolak, dia bilang terlalu lama jika harus memanggil tukang
pijit. Aku berpositif thingking, mungkin dia sangat lelah dengan perjalanan
yang lumayan jauh, aku memijitinya dengan syarat pintu kamar dibuka lebar, ia
setuju.
Berulang
kali Rajab minta dipijiti, aku sudah sering kali menolak namun Rajab selalu
memaksa, dia mengancamku akan memecatku jika aku tidak memijitinya. Aku tidak
mau memijiti Rajab karena terkadang Rajab membelai pipiku ketika aku sedang
memijiti tangannya, aku sering kali menangkis tangannya jika dia berusaha
memberlai pipiku atau mulai meraba tubuhku namun dia malah memegangku erat. Aku
ketakutan.
Malam
ini ketika Umi dan Abi sudah tertidur lelap, Rajab datang kekamarku minta
dipijiti, aku menolak. Rajab menyelinap masuk kekamarku, aku berteriak namun
tangannya membekap mulutku. Pintu kamarku dikunci olehnya dan kuncinya dia
sembunyikan di saku celananya, aku sungguh ketakutan, apa yang ingin dia
lakukan terhadapku, aku berusaha mengetuk pintu dan berteriak meminta
pertolongan namun tidak ada yang mendengar, kamarku memang berada jauh
dibelakang, bersebelahan dengan garasi hingga suara apapun tak mungkin
terdengar. Rajab menamparku karena aku tak mau menuruti kemauannuya untuk
tidur, aku terus menyelamatkan diriku dengan melempar benda-benda yang ada
disana, aku lemas, tenagaku hampir habis namun sekuat tenanga aku tetap
mempertahankan diriku. Rajab merobek bajuku dan menamparku hingga aku pingsan.
Malam itu menjadi malam terburuk yang pernah aku alami, aku tersadar sudah
tidak mengenakan busana, namun Rajab sudah tidak ada di sebelahku. Aku
kesakitan, rasanya seluruh badan dan hatiku sakit.
Aku
tidak keluar kamar, tidak menyapu halaman dan tidak memasak, Umi mengira aku
sakit, aku memang sakit namun Umi tidak tahu, sakit apa yang aku rasakan. Umi
dengan baik hati menyuruhku untuk istirahat saja, karena aku tidak mau dibawa
ke Dokter.
Tiga
hari aku selalu berada dikamar tanpa keluar, aku selalu menangis. Dan hal yang
aku takutkan datang kembali, Rajab datang lagi kekamarku dan mengunci pintuku
dan lagi-lagi dia melakukan itu. Dia merenggut kehormatanku kesekian kalinya.,
rasanya aku sudah tidak ingin hidup lagi.
Tugas meruba cerita non fiksi menjadi fiksi FLP, Sebelum Revisi
Labels:
Tugas FLP
15 Juni, 2012
Surat Kecil untuk Jodohku 3
Assalamu'alaikum jodohku...
Jodohku, 15 hari lagi aku akan berulang tahun yang ke 22, ulang tahunnya sii tidak penting namun aku khawatir di usiaku yang akan bertambah menjadi 22 tahun ini belum bisa dewasa, ahh aku bingung arti dewasa menurut orang-orang itu seperti apa, rasanya aku sudah berusaha untuk terus bersikap dewasa dengan menggunakan skala prioritas sesuai kebutuhan namun tetap saja masih banyak yang mengganggap aku belum dewasa, biarkanlah...
Jodohku, 15 hari lagi aku akan berulang tahun yang ke 22, ulang tahunnya sii tidak penting namun aku khawatir di usiaku yang akan bertambah menjadi 22 tahun ini belum bisa dewasa, ahh aku bingung arti dewasa menurut orang-orang itu seperti apa, rasanya aku sudah berusaha untuk terus bersikap dewasa dengan menggunakan skala prioritas sesuai kebutuhan namun tetap saja masih banyak yang mengganggap aku belum dewasa, biarkanlah...
Jodohku, aku ingin teriak yang kencang jika
dalam suatu malam terkadang aku merasa kesepian, aku ingin mempunyai
teman syering, teman bercerita, teman berjuang, teman bertanya yang
dapat mencontohkan kebaikan, ahh sudahlah tidak usah dilanjutkan,
Lupakan saja.
Jodohku, Alhamdulillah wa Syukurilah Allah
memberikan begitu banyak kemudahan dan keindahan, dalam segala hal,
kasih tau ga yaaa apa, ada deh, nanti juga kau tau, makanya cepat dunk
kau mencariku, jodohku, banyak cerita yang ingin aku sampaikan padamu.
Jodohku, aku rindu padamu.... titik.
Jodohku, terus doakan aku ya, doa kekuatan menghadapi semua kejadian dalam kehidupan,
Jodohku,
Jodohku, Jodohku, semoga kita selalu diberikan ke istiqomahan,
keindahan, kebahagiaan, ketenangan dan kesabaran dalam menjalani
kehidupan. Aamiin.
Jodohku, doaku semoga aku dapat bertemu denganmu di waktu yang tepat. Aamiin.
Terus berbuat kebaikan ya jodohku walau kecil, walau sulit,
Jodohku, aku masih ingin menumpahkan rindu ku, tapi rasanya tidak baik, jodohku sampai ketemu dalam doa yaaa..
Love you...
Labels:
Surat Cinta
14 Juni, 2012
Untuk Kamu
Untuk kamu yang selalu aku perhatikan dari kejauhan...
iyaa kamu, kamu yang selalu menggoda hatiku kala kamu sedang memakai koko, dan peci mu, yang ketika kau berjalan didepanku, kau tidak menyapa ku, hanya sedikit tersenyum dan pergi, itulah saat-saat hatiku berbunga-bunga,
Untuk kamu yang Lembut...
iyaa, kamu. kamu yang selalu ramah dan santun kala berbicara, sedikit pelan namun tegas. Itulah yang selalu membuat aku deg-degan kala dekat denganmu, andai saja kau tauu...
Untuk kamu yang Cerdas...
Lagi... lagi aku selalu tidak kuat ingin memelukmu dengan kencang, kala kamu sedang serius didepan laptopmu atau kala kamu sedang menjawab argumenmu, ahhh kau ini... semakin saja aku menyukaimu.
Untuk kamu yang Penyayang...
kamu yang perduli dengan anak-anak, kamu yang tersenyum ramah dengan mereka, sayang nya kamu pada mereka bikin aku tambah tambah tambah... #uhuk
Untuk kamu yang aku cintai dengan sederhana...
Sederhananya aku mencintai kamu
Sederhananya aku mengagumi kamu, mungkin akan membuat kamu tidak pernah tau betapa aku.... padamu,
biarkanlah...
hanya aku, dan Tuhanku yang Maha Tahu
iyaa kamu, kamu yang selalu menggoda hatiku kala kamu sedang memakai koko, dan peci mu, yang ketika kau berjalan didepanku, kau tidak menyapa ku, hanya sedikit tersenyum dan pergi, itulah saat-saat hatiku berbunga-bunga,
Untuk kamu yang Lembut...
iyaa, kamu. kamu yang selalu ramah dan santun kala berbicara, sedikit pelan namun tegas. Itulah yang selalu membuat aku deg-degan kala dekat denganmu, andai saja kau tauu...
Untuk kamu yang Cerdas...
Lagi... lagi aku selalu tidak kuat ingin memelukmu dengan kencang, kala kamu sedang serius didepan laptopmu atau kala kamu sedang menjawab argumenmu, ahhh kau ini... semakin saja aku menyukaimu.
Untuk kamu yang Penyayang...
kamu yang perduli dengan anak-anak, kamu yang tersenyum ramah dengan mereka, sayang nya kamu pada mereka bikin aku tambah tambah tambah... #uhuk
Untuk kamu yang aku cintai dengan sederhana...
Sederhananya aku mencintai kamu
Sederhananya aku mengagumi kamu, mungkin akan membuat kamu tidak pernah tau betapa aku.... padamu,
biarkanlah...
hanya aku, dan Tuhanku yang Maha Tahu
Labels:
Surat Cinta
06 Juni, 2012
Menjelang H-24 usia 22 tahun
Hari ini tepat H-24
usiaku akan meranjak 22 tahun, tuhan rasanya aku ingin mengadukan
kesedihanku, kesedihan yang biasanya hanya aku simpan dalam hati tanpa
aku tuangkan dalam tulisan. Tuhan, aku sangat kesepian sekali, kesepian
yang menyedihkan saat orang-orang terdekatku berubah tanpa sebab,
berubah tanpa aku tau penyebabnya, berubah menjadi orang yang sangat
tidak aku kenal, aku tidak suka itu.
Tuhan boleh aku meminta sesuatu di usiaku yang meranjak 22 tahun ini....
Tuhan, sungguh aku ingin sekali hadiah ini, hadiah yang sudah aku doakan sejak lama, hadiah yang menjadikan diriku seperti ini sampai saat ini, Tuhan, tolong berikan aku kekasih sholeh yang baik hati, aku membutuhkannya untuk menemani perjuanganku disetiap harinya, kekasih halal yang bisa menjadi sahabatku dalam hal apa saja. Tuhan, saat ini aku sering sekali merasakan kesepian, kesepian yang selalu membuat aku meneteskan air mata tanpa sebab. Kesepian yang terkadang selalu membuatku menjadi wanita yang tidak aktif dalam bersikap.
Tuhan, aku sedang dilanda galau yang teramat sangat, apakah aku harus menangguhkan prinsipku untuk memulai menjalin hubungan dengan bukan muhrimku demi mengusir rasa kesepianku atau aku harus seperti ini saja, menahan kesepian, menahan kesedihan yang aku tidak tahu datangnya dari mana. Oohhh Tuhan tolong berikan yang terbaik, aku terserah Engkau sajalah.
Tuhan, terus kuatkan hati ini, untuk menjemput pangeranku yang sholeh, aku yakin dia ada disana yang juga sedang berjuang melawan kenikmatan-kenikmatan dunia yang fana.
Tuhan, terimakasih yang teramat sangat ketika Engkau mengirimkan sosok-sosok baru dalam menyibukan hari-hariku, aku tahu mungkin itu caraMu untuk mengalihkan kesepianku namun Tuhan terkadang aku tetap saja tidak kuat melihat mereka yang terlihat berbahagia dengan pasangannya, aku ingin juga Tuhan.
Tuhan, maaf jika dalam aku bersikap masih banyak sekali hal-hal yang membuatMu tidak suka padaku, itu semua kehilafanku sebagai manusia biasa.
Tuhan tolong jaga aku, selalu dan selamanya.
Tuhan boleh aku meminta sesuatu di usiaku yang meranjak 22 tahun ini....
Tuhan, sungguh aku ingin sekali hadiah ini, hadiah yang sudah aku doakan sejak lama, hadiah yang menjadikan diriku seperti ini sampai saat ini, Tuhan, tolong berikan aku kekasih sholeh yang baik hati, aku membutuhkannya untuk menemani perjuanganku disetiap harinya, kekasih halal yang bisa menjadi sahabatku dalam hal apa saja. Tuhan, saat ini aku sering sekali merasakan kesepian, kesepian yang selalu membuat aku meneteskan air mata tanpa sebab. Kesepian yang terkadang selalu membuatku menjadi wanita yang tidak aktif dalam bersikap.
Tuhan, aku sedang dilanda galau yang teramat sangat, apakah aku harus menangguhkan prinsipku untuk memulai menjalin hubungan dengan bukan muhrimku demi mengusir rasa kesepianku atau aku harus seperti ini saja, menahan kesepian, menahan kesedihan yang aku tidak tahu datangnya dari mana. Oohhh Tuhan tolong berikan yang terbaik, aku terserah Engkau sajalah.
Tuhan, terus kuatkan hati ini, untuk menjemput pangeranku yang sholeh, aku yakin dia ada disana yang juga sedang berjuang melawan kenikmatan-kenikmatan dunia yang fana.
Tuhan, terimakasih yang teramat sangat ketika Engkau mengirimkan sosok-sosok baru dalam menyibukan hari-hariku, aku tahu mungkin itu caraMu untuk mengalihkan kesepianku namun Tuhan terkadang aku tetap saja tidak kuat melihat mereka yang terlihat berbahagia dengan pasangannya, aku ingin juga Tuhan.
Tuhan, maaf jika dalam aku bersikap masih banyak sekali hal-hal yang membuatMu tidak suka padaku, itu semua kehilafanku sebagai manusia biasa.
Tuhan tolong jaga aku, selalu dan selamanya.
Labels:
Ultah ku
30 Mei, 2012
Menjelang H-30 usia 22 tahun
Hari ini tepat H-30
usiaku akan meranja 22 tahun, usia yang hampir setengah matang untuk
menuju dewasa. Ohhh, dewasa... mahluk apakah itu?
Banyak sekali hal-hal yang harus dibenahi untuk menuju usia 22 tahun ini, dari mulai ahlak, pemikiran, perbuatan, sampai perasaan. Sepertinya banyak juga prinsip-prinsip baru yang harus di buat dan prinsip-prinsip lama yang harus di tangguhkan, ahh apa cobaa!!!
Usia 22 tahun.... sebentar lagi usiaku 22 tahun, harus sedih, senang atau apa yaa??
yang pasti aku sangat bersyukur karna banyak sekali Anugrah Allah Yang Indah yang aku dapati hingga hari ini. Alhamdulillah tugas-tugas perkembangan dewasa awal terjalani dengan baik.
Tuhanku yang Maha Baik, aku hanya ingin bersyukur atas segala Kebahagiaan yang kau berikan.
Kebahagiaan atas karunia malaikan dunia terbaik, ayah dan bunda yang sangat aku cintai
Kebahagiaan atas dua mutiara terindah yang selalu menemani hari-hariku, Desty dan Intan tersayang
Kebahagiaan atas adik-adik kecil yang menyenangkan
Kebahagiaan atas sahabat-sahabat terkasih yang selalu ada
Kebahagiaan atas semua orang yang kau kirim untukku
Terimakasih Robb, Atas semua Nikmat yang tiada tara ini,,
Aku sadar... ketika kau ciptakan sedih untukku, ketika kau ciptakan bahagia untukku itu semua sebab untuk membuatku semakin dewasa dalam berfikir dan bertindak.
Robb, di usiaku yang ke 22 tahun, aku mohon terus berikan aku hidayah-Mu, terus berikan keIstiqomahan untukku, terus jagain sholat-sholat wajib dan sunnahku, terus terangi hatiku dengan cahayamu,
Robb, hanya ucapan Syukur Alhamdulillah, dan Terimakasih yang tak terhingga yang bisa aku ucapkan atas semua Anugrah ini.
Semoga Engkau terus menjagaku, selalu dan selamanya.
Banyak sekali hal-hal yang harus dibenahi untuk menuju usia 22 tahun ini, dari mulai ahlak, pemikiran, perbuatan, sampai perasaan. Sepertinya banyak juga prinsip-prinsip baru yang harus di buat dan prinsip-prinsip lama yang harus di tangguhkan, ahh apa cobaa!!!
Usia 22 tahun.... sebentar lagi usiaku 22 tahun, harus sedih, senang atau apa yaa??
yang pasti aku sangat bersyukur karna banyak sekali Anugrah Allah Yang Indah yang aku dapati hingga hari ini. Alhamdulillah tugas-tugas perkembangan dewasa awal terjalani dengan baik.
Tuhanku yang Maha Baik, aku hanya ingin bersyukur atas segala Kebahagiaan yang kau berikan.
Kebahagiaan atas karunia malaikan dunia terbaik, ayah dan bunda yang sangat aku cintai
Kebahagiaan atas dua mutiara terindah yang selalu menemani hari-hariku, Desty dan Intan tersayang
Kebahagiaan atas adik-adik kecil yang menyenangkan
Kebahagiaan atas sahabat-sahabat terkasih yang selalu ada
Kebahagiaan atas semua orang yang kau kirim untukku
Terimakasih Robb, Atas semua Nikmat yang tiada tara ini,,
Aku sadar... ketika kau ciptakan sedih untukku, ketika kau ciptakan bahagia untukku itu semua sebab untuk membuatku semakin dewasa dalam berfikir dan bertindak.
Robb, di usiaku yang ke 22 tahun, aku mohon terus berikan aku hidayah-Mu, terus berikan keIstiqomahan untukku, terus jagain sholat-sholat wajib dan sunnahku, terus terangi hatiku dengan cahayamu,
Robb, hanya ucapan Syukur Alhamdulillah, dan Terimakasih yang tak terhingga yang bisa aku ucapkan atas semua Anugrah ini.
Semoga Engkau terus menjagaku, selalu dan selamanya.
Labels:
Diaryku
25 Mei, 2012
Revisi Dongeng Bawang Merah da bawang Putih
“
Brakkk…” suara Bawang Putih membanting pintu.
“
Jangan pernah kau datang lagi kerumah ini ” teriak Bawang Putih ketika sedang
mengusir laki-laki yang datang kerumahnya.
Entah
mengapa Bawang Putih selalu memarahi laki-laki yang datang kerumahnya untuk
melamar atau hanya sekedar untuk berkunjung melihat kecantikan bawang putih. Banyak
laki-laki yang patah hati dan galau karena kaget terhadap perlakuan Bawang Putih
yang ternyata sombong. Banyak pula laki-laki yang pantang menyerah dan tetap
mencoba datang ke rumah Bawang Putih walau sudah ratusan kali diusir atau tidak
dibukakan pintu oleh Bawang Putih. Dipojok kamarnya, Bawang Putih selalu
menangis atas perlakuan sombongnya yang dia khususkan pada laki-laki ganjen,
menurutnya kesehatan dan kenyamanan ibunya lebih penting ketimbang memikirkan
lamaran-lamaran laki-laki itu.
***
“ Bawang Merah… Bawang Merah ”
teriak sang ibu dari dapur. “ Apa si bu, manggil-manggil ” sahut Bawang Merah
dengan suara jutek. “ Ayo nak, kau cuci pakaianmu ke sungai mumpung masih pagi ”,
“ Ahh, ibu saja, Bawang Merah malas ”.
Bawang
Merah memendam kekesalan sejak kecil terhadap ibunya karena telah mengusir ayah
yang paling dicintainya hingga akhirnya Bawang Merah tumbuh dalam kekurangan
kasih sayang ayah. Setiap hari Bawang Merah menolak untuk mengerjakan pekerjaan
rumah yang diperintahkan ibunya, dia lebih memilih untuk bermain dan berkumpul
dengan teman laki-lakinya di pasar walaupun hanya sekedar duduk-duduk minum
kopi. Suatu pagi, ketika Bawang Merah sedang duduk-duduk di pasar tiba-tiba
ibunya datang dan menyuruhnya pulang, Bawang Merah menolak dan membentak-bentak
sang ibu dengan kata-kata kasar, spontan
ibunya langsung menjewer telinga Bawang Merah hingga rumah. Di rumah, Bawang
Merah dan Ibunya bertengkar hebat, keduanya beradu mulut dan beradu otot hingga
keduanya sakit hati dan sakit fisik.
Ke
esokan harinya, di sebuah pasar yang ramai dengan penjual dan pembeli terdapat
Bawang Merah yang sedang bersenda gurau dengan teman-teman laki-lakinya di atas
bale bamboo yang berada di pojokan pasar. Tiba-tiba ada laki-laki tampan yang
terlihat sedikit tua datang menghampiri Bawang mereka.
“
Permisi, maaf, kalian sedang apa disini, ini tempat saya berjualan, lebih baik
kalian bekerja dari pada harus menghabiskan waktu tak karuan disini, kamu juga,
kamu kan perempuan, sedang apa pagi-pagi sudah ada disini, anak perempuan
harusnya ada dirumah untuk memasak, atau disungai untuk mencuci pakaian ”, tanya
laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua kepada Bawang Merah. Sentak Bawang
Merah kaget mendengar suara laki-laki itu, namun bukannya marah atau kesal,
Bawang Merah malah tersipu malu dan mengeluarkan senyum kecil nan manis seraya
berkata pada laki-laki tampan yang sedikit tua itu.
“
Saya tadi sedang membeli sayuran pa, untuk dimasak di rumah, kebetulan tadi
saya melihat ada teman-teman saya jadi saya menghampiri mereka sebentar ”.
Dengan nada yang ragu-ragu dalam menjawab, Bawang Merah memang terlihat
berbohong, namun sang laki-laki tampan nan sedikit tua itu menyembunyikan dan
menunjukan kepercayaan terhadap ucapan Bawang Merah.
Bawang Merah pun permisi pulang untuk ingin
segera memasak walaupun sebenarnya itu bohongan. Di perjalanan Bawang Merah
senyum-senyum dan berlari-lari kecil melukiskan kesenangan yang mungkin
datangnya dari laki-laki tampan tadi. Setibanya di rumah Bawang Merah langsung
meminta pakaian kotor ibunya untuk dia cucikan di sungai, ibunya sekejap kaget
dan bingung namun tak dihiraukannya.
***
Uhuk…
uhuk… uhuk… mengeluarkan darah segar,
itulah
yang terjadi setiap hari di kamar, dari kejauhan Bawang Putih meneteskan air
mata tiap kali melihat ibunya batuk-batuk namun cepat-cepat dia hapus agar
tidak terlihat sang ibu. Bawang Putih segera mengambilkan air putih hangat
untuk diberikan pada ibunya. Dan sedikit berbincang-bincang agar ibunya tidak
merasa kesepian.
Ayah
yang tadi pagi sebelum berangkat ke pasar untuk berjualan terlihat mencium
kening sang istri sangat lama, berbisik di telinganya “ istriku, aku
menyayangimu, aku mencintaimu, kau sangat cantik, kau sangat hebat, aku bangga
padamu ”.
Itulah
aktifitas pagi yang selalu ayah lakukan kepada ibu, hingga ibu selalu terlihat
bahagia dan ceria walau batuk darahnya sudah menggerogoti badannya hingga
kurus. Semua pekerjaan rumah dilakukan Bawang Putih dengan gembira, dari
memasak, mencuci baju, membersihkan rumah hingga merawat kedua orang tuanya,
tak lupa iya juga menyempatkan diri untuk menolong tetangganya apabila
membutuhkan bantuannya karena tetangga sebelah rumahnya sudah tua renta dan tak
memiliki satupun saudara. Memang Bawang Putuh sangat perduli pada lingkungan
sekitar, namun aneh sekali sifatnya itu sangat mendadak berubah ketika
menghadapi laki-laki yang menyukainya, entah mengapa.
***
“
Bu… ibu… hari ini Bawang Merah yang masak dan belanja ke pasar ya “ teriak
bawang merah dengan semangat dan pergi menjauh dari rumah tanpa berpamintan
kepada ibu.
Di
pasar, Bawang Merah memasang mata tajam seraya mencari sosok yang kemarin
ditemuinya, alhasil sosok itupun ada dan cepat-cepat Bawang Merah menghampiri
sosok itu sambil tersenyum-senyum kecil.
“
Asalamu’alaikum pa,” sapa Bawang Merah dengan ramah.
Ternyata
laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua itu adalah salah satu penjual
sayuran di pasar.
“
Wa’alalikum salam nak, wah senang sekali bisa bertemu lagi, pasti kamu kesini
mau membeli sayuran untuk dimasak ya ” sahut laki-laki itu dengan ramahnya,
“
iya pa, hari ini saya mau masak sayur asam dengan sambal ”. Akhirnya Bawang
Merah diberi sayuran dan cabai dengan gratis.
Di
rumah, ibu Bawang Merah kebingungan melihat anaknya yang mendadak jadi rajin,
namun dalam hati ia bersyukur dengan harapan anaknya akan begini terus
sikapnya, tidak seperti dahulu yang durhaka dan pemalas.
***
Di
pasar yang ramai, terlihat Bawang Putih berlari kencang menyusul ayahnya yang
sedang berjualan. Bawang Putih tergopoh-gopong kelelahan karena sangat khawatir
dengan keadaan ibunya yang baru saja mengeluarkan darah, bukan saja dari mulut
namun dari lubang hidung dan kedua telinganya.
“
Ayah… Ayah… cepat pulang yah, kondisi ibu menurun drastis, Bawang Putih takut
ibu kenapa-napa yah,“ melihat Bawang Putih yang panik ayahnya segera
meninggalkan dagangannya dan berlari pulang ke rumah bersama Bawang Putih,
ternyata di rumah sudah ada beberapa orang yang berada di dalam kamar sang ibu,
ternyata sang ibu sudah meninggal sepuluh menit yang lalu ketika seorang
tetangganya yang tua renta melihat Bawang Putih berlari ke pasar dan dia
melihat ke kamar ibu, ternyata ibu Bawang Putih sudah tiada. Berhari-hari
Bawang Putih menangis dan mengurung diri di kamar, berhari-hari pun ayah tidak
berjualan ke pasar, aroma kesedihan sangat terlihat jelas di kelurga tersebut.
***
Di
teras rumah yang kecil, terlihat Bawang Merah melamun sendirian, entah apa yang
dipikirkannya, yang pasti sudah hampir dua minggu Bawang Merah menyengajakan
pergi ke pasar untuk bertemu dengan sosok laki-laki yang tak kunjung di
temuinya, yang ternyata dari pertemuan pertama itu sudah timbul benih-benih
cinta di hati Bawang Merah. Sifat Bawang Merah kembali seperti semula, durhaka
terhadap ibunya dan juga pemalas namun karena sifat ibunya yang juga sangat
galak menjadikan Bawang Merah dan Ibunya melakukan adu mulut dan adu otot setiap
harinya dan tak ada yang mengalah.
Seminggu
pun berlalu dengan beberapa kali pertengkaran ibu dan anak yang hampir rutin
setiap hari, namun sore ini berbeda, ibu Bawang Merah mendadak jadi
senyum-senyum sendiri dan menghiraukan teriakan-teriakan kasar dari Bawang
Merah yang terkadang itu yang menjadi pertengkaran, entah dikarenakan apa, yang
pasti sejak tadi siang sepulangnya ibu Bawang Merah Bekerja di toko baju, wajah
ibu ceria dan merah merona seperti habis bertemu dengan tambatan hati. Benar
sekali, ternyata ibu Bawang Merah kepincut dengan pembeli yang tadi datang ke tokonya
bukan untuk membeli pakaian, melainkan untuk memberikannya beberapa potong baju
yang masih bagus-bagus kepunyaan almarhumah istrinya yang katanya sayang jika
tidak digunakan dan hanya disimpan dalam lemari, lebih baik diberikan agar
bermanfaat.
Bawang
Merah benar-benar curiga dengan sikap ibunya yang akhir-akhir ini menjadi
sedikit lebih ramah terhadapnya, namun tetap dihiraukannya karena menurut
Bawang Merah itu hanya sementara, yang pasti Bawang Merah tak henti-hetinya
setiap pagi pergi ke pasar dengan harapan bisa bertemu dengan sosok laki-laki
tampan yang memang sedikit terlihat tua.
Pagi
ini Bawang Merah pergi ke pasar untuk membeli sayur, bukan untuk mengobrol
dengan teman laki-lakinya, suatu rutinitas yang baru dia lakukan sejak dia
bertemu dengan sosok laki-laki tampan yang sedikit terlihat tua itu. Bawang
Merah senang sekali karena akhirnya ia bertemu dengan sosok itu, Bawang Merah
pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dia mengobrol banyak dan sesekali
melontarkan pujian dan perhatian supaya sosok itu menyadari benih cinta yang
ada dalam hati Bawang Merah. Enam bulan pun berlalu dan rutinitas itu selalu
Bawang Merah lakukan setiap pagi hingga terlihat keakraban antara Bawang Merah
dengan sosok laki-laki itu.
***
Di
ruang tamu yang megah, Bawang Putih dan ayahnya berbincang-bincang kecil, mulai
dari ayahnya yang menanyakan kapan Bawang Putih akan menerima lamaran salah
salah satu laki-laki yang sering datang kerumahnya, sampai dengan Bawang Putih
yang bertanya kepada ayahnya kapan akan memberikan ibu baru, karena Bawang
Putih kasihan melihat ayah yang selalu melamun setiap malam. Mereka terhanyut
dalam tawa masing-masing. Terlihat jelas sekali keakraban antara ayah dan anak
tersebut.
***
Di
sudut toko baju yang sepi pembeli, ibu Bawang Merah galau, ia berharap sosok
laki-laki yang pernah memberikannya beberapa potong baju itu akan datang
kembali karena ibu Bawang Merah ingin sekali mengungkapkan perasaannya,
perasaan yang tumbuh sejak pertama bertemu, dan Tuhan pun mendengarnya, secara
tiba-tiba datang sosok itu yang berniat untuk membelikan hadiah baju untuk
anaknya, sosok itupun meminta tolong kepada ibu Bawang Merah untuk dicarikan
baju yang modelnya sesuai dengan usia anaknya, kebetulan sekali anak sosok
laki-laki itu seusia dengan Bawang Merah hingga ibu Bawang Merah pun tidak
mengalami kesulitan untuk mencarikan baju yang cocok. Setelah dipilihkan
ternyata pilihannya cocok dengan selera sosok laki-laki itu, “ wah terimakasih
banyak ibu, sudah membantu mencarikan baju untuk hadiah anak saya, sepertinya
anak saya akan terlihat lebih cantik mengenakan baju ini ”, keduanya pun saling
pandang dan tersenyum. Di dalam hati ibu Bawang Merah ada keinginan untuk
mengatakan perasaannya, namun disisi lain dia tidak berani. Sosok laki-laki
itupun pergi kian menjauh hingga banyangannya sudah tidak terlihat lagi.
***
“
Nak, hari ini mau masak apa? ” tanya pedagang sayuran kepada Bawang Merah yang
tidak lain adalah sosok laki-laki tampan yang terlihat sedikit tua. Bawang
Merah pun senang sekali setiap pagi bisa melihat laki-laki itu, selain menjadi
rajin ke pasar, Bawah Merah pun menjadi padai memasak. “ Mau masak tumis
kangkung pa, ada kangkungnya pa? ” tanya Bawang Merah. “ Ada nak, mau berapa
ikat? ” tanya pedagang sayur dengan senyumnya yang ramah. Bawang Merah semakin
menggebu-gebu, perasaannya makin tidak karuan, benih-benih cintanya sudah
semakin besar, seperti sudah tak bisa di bending lagi, Bawang Merah merasakan
kenyamanan setiap berada di dekat laki-laki itu, sepertinya Bawang Merah sudah
bulat untuk menjadikan sosok lelaki itu sebagai kekasihnya bahkan suaminya.
Wajah Bawang Merah pun memerah tak karuan, dia ingin sekali mengungkapkan
perasaannya, walaupun malu.
Tiba-tiba
sosok laki-laki itu memanggilnya, “ nak, boleh saya kenal nama kamu?” makin
saja jantung Bawang Merah berdetak kencang.
Singkat
cerita, Bawang Merah diajak menikah oleh sosok laki-laki tampan yang terlihat
sedikit tua itu yang tidak lain adalah ayah dari Bawang Putih. Ternyata ayah
Bawang Putih juga mempunyai perasaan yang sama, jatuh cinta pada pandangan
pertama. Ibu Bawang Merah sangat terkejut, kaget, dan marah ketika melihat
seorang laki-laki datang ke rumahnya untuk melamar putrinya, seorang laki-laki
yang juga dia cintai, seorang laki-laki yang telah mencuri perasaannya sejak
pertama bertemu di toko baju itu, dan sekarang laki-laki itu ada di depan
wajahnya untuk meminta izin melamar putrinya yaitu Bawang Merah.
Waktu
berjalan sangat cepat, Bawang Merah dan sosok laki-laki itu sudah melangsungkan
pernikahan. Mereka hidup bahagia, Bawang Merah yang pandai sekali memasak,
menjadi istri yang sangat dicintai suaminya, namun kebahagiaan itu musnah kala
Ibu Bawang Merah berniat menghancurkan rumah tangga mereka. Sifat iri dan
dengki ibu Bawang Merah terhadap kebahagiaan Bawang Merah menjadikan pintu
hatinya selalu diselimuti oleh sifat ingin balas dendam dan merebut semua
kebahagiaan yang dimiliki Bawang Merah. Hingga suatu kejadian tragis pun
terjadi, Bawang Merah diajak kesebuah rumah kosong oleh ibunya, lalu Bawang
Merah disiksa dengan beberapakali dipukuli. Bawang Merah kesakitan, ia menangis
minta ampun, namun ibunya tak menghiraukan, ibunya tetap memukuli Bawang Merah
hingga pingsan.
***
Di
dalam rumah ada Bawang Putih yang sedang menonton TV, sedari tadi ia mencari mama
tirinya yaitu Bawang Merah yang sangat ia cintai walaupun umurnya tak jauh
berbeda dengannya, namun tak kunjung ada, “ mama… mama…” teriak Bawang Putih.
Bawang Putih cemas, ia keluar rumah untuk mencari namun tak juga ketemu.
***
Di
dalam rumah kosong, Bawang Merah tersadar tangannya terikat dan badannya
memar-memar, ia mencoba melepaskan ikatan tangannya dan melarikan diri. Karena
rasa haus dan lapar yang teramat sangat ia pergi mencari air ke sungai. Di
sungai Bawang Merah minum, badannya mulai segar kembali dan ia segera pulang ke
rumah untuk mengadukan perbuatan ibunya kepada suaminya dan anak tirinya.
Akhirnya, mereka bertiga pergi ke kentor polisi dan ibu Bawang Merah ditangkap
dengan laporan penganiayaan. Ibu Bawang Merah mendapat hukum pidana dengan
pasal 19 ayat 1 yaitu hukuman selama 5 tahun 5 bulan.
***
Bawang
Putih hidup dalam keluarga yang bahagia, walaupun dengan mama tiri, namun
mereka saling menyayangi. Dua tahun kemudian, Bawang Putih dilamar oleh seorang
pangeran tampan yang baik hati, mereka menikah dan dikaruniai seorang putra
yang tampan, dan mama tirinya yaitu Bawang Merah telah dikaruniai anak kembar
yang cantik dan lucu bernama Bawang Bombai dan Bawang Seledri. Keluarga
tersebut hidup rukun dan bahagia.
SELESAI
Labels:
Tugas FLP
Langganan:
Postingan (Atom)



