01 Maret, 2013

Wanita Anggun itu Inspirasiku

5 tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih menjadi MaBa alias Mahasiswa Baru di Universitas Islam Negeri Jakarta, aku melihat seorang wanita anggun yang penampilannya enak sekali dipandang mata, terutama untukku. Aku ingat waktu itu, pertama kali aku bertemu dengannya di Aula SC saat aku mengikuti seminar pertamaku judulnya aku lupa. Saat semester 1 aku semangat sekali mengikuti seminar-seminar yang ada di kampus.

Wanita itu sungguh anggun, dengan jilbab panjangnya yang di doble dua, sehingga untuk menerawang yang ada dikapalanya saja kesulitan, dihias dengan brose cantik yang ditaruh di sebelah kiri pundaknya, senyumnya tipis manis, suaranya lembut, tatapan matanya bulat indah, pada saat itu aku berdoa dalam hati semoga aku bisa seperti wanita anggun itu, wanita yang sungguh anggun dengan jilbab panjangnya yang syar’i. 

Tanpa disengaja, aku bisa mengenalnya, namanya ka Nisa Nurhakim, ternyata bliau Ketua Keputrian di LDK UIN. Aku senang sekali bisa bertemu dengannya lagi dalam setiap acara yang mayoritas diselenggarakan oleh perempuan-perempuan anggun yang jilbabnya panjang syar’i.
Semangatku terus bergejolak, dalam hati aku berdoa, aku ingin sekali seperti wanita-wanita anggun itu, tapii disisi lain terkadang aku malu, aku belum bisa mengenakan jilbab seperti itu, selain tidak tahu cara mengenakannya bagaimana, aku juga tidak mempunyai keberanian untuk merubah penampilanku.

Tidak terasa aku sudah semester 3, akupun terus mengikuti kegiatan-kegiatan yang mayoritas perempuannya berjilbab panjang syar’i yang sangat anggun dilihat walaupun aku hanya menjadi peserta pasif yang hanya ikut numpang nyari ilmu, pengalaman dan teman.

Betapa bahagianya aku pada saat itu karena aku bisa bergabung mengikuti kajian (LQ) yang langsung dibimbing oleh wanita anggun yang menginspirasiku saat aku awal kuliah, ka Nisa Nurhakim. Uhibukifillah.

2 tahun berlalu, ternyata aku memang belum berani untuk mengubah penampilanku, hati terus bergejolak untuk mengenakan jilbab yang syar’i seperti wanita anggun itu namun disisi lain terkadang aku malu akan sikapku, apakah aku pantas dan layak, yang pasti dalam benakku apakah aku bisa mempertanggungjawabkan ahlakku jika aku mengenakan jilbab seperti itu, aku mau tapi malu. Aku mau tapi takut. Aku mau tapi tak tahu. Aku mau tapi tapi tapi dan tapi itu saja yang ada di benakku, aku kadang berfikir jauh, apa Allah belum memberikan hidayahnya untukku, atau akunya yang menolak di beri Hidayah, aku tetap stay cool jadi anak santai kaya di pantai walaupun rata-rata temen LQ ku jilbabnya panjang anggun.

Lambat laun, aku menarik diri dari perkumpulan itu, entah karena rasa malu, minder, atau apalah yang pasti aku memutuskan untuk vakum dan keluar dari kajian yang sudah hampir 2 tahun aku jalani. 

Allah memang Maha Baik, Allah langsung memberikan penggantinya, sehingga aku tetap bisa LQ dirumah tempat aku tinggal, aku bahagia, ada wanita anggun yang lain, yang mengajariku berbagai ilmu dunia-akhirat yang tidak jauh beda ahlak dan sifatnya seperti wanita anggun di awal.

Sampai aku lulus dari universitas itu, aku masih belum bisa merealisasikan keinginan aku ketika awal masuk kuliah, ingin mengenakan jilbab panjang di doble yang syar’i, doa terus ku jalani, walau memang nyatanya sulit.

Dan sekarang aku bekerja di SDIT Ruhama dan aku bersyukur, aku mempunyai teman-teman guru yang rata-rata jilbabnya panjang syar’i yang rela mengajariku, mencontohkanku, dan menasehatiku, dan Alhamdulillah wa Syukurillah atas Kebaikan, Hidayah dan Karunia Allah Swt. Aku dapat dengan yakin dan pasti untuk mengenakan jilbab panjang dan Syar’i, doaku semoga Allah terus menjagaku, memberikan ke istiqomahan dan memudahkan jalanku. Aamiin

Terimakasih banyak ya Robb, 

Terimakasih banyak wanita-wanita anggun yang menginspirasiku.

Uhibukifillah ^_^.

2 komentar:

Vita Komaria mengatakan...

makasih buat saran sarannya :)

kunjung balik yah


siputih
Rehabilitasi Narkoba Indonesia

Ocha Yo sinta mengatakan...

Subhannallah